Generasi Z hidup dalam lingkungan sosial dengan dinamika identitas yang kuat. Tekanan sebaya (peer pressure) menjadi salah satu penyebab utama meningkatnya penggunaan vape di kalangan anak muda. Vape sering dipandang sebagai simbol pergaulan, modernitas, dan ekspresi diri. Kehadiran perangkat vape yang canggih, desain minimalis, serta kemudahan akses melalui toko daring memperkuat tren ini. Sifat generasi Z yang cenderung mencari pengalaman baru, menyukai hal instan, dan mudah dipengaruhi tren viral membuat mereka lebih rentan mencoba produk-produk yang bersifat adiktif. Peningkatan penggunaan rokok elektrik di kalangan anak muda Generasi Z menimbulkan kekhawatiran yang luas dalam bidang kesehatan masyarakat. Meskipun dipromosikan sebagai alternatif yang lebih aman, banyak penelitian menunjukkan bahwa vape tetap mengandung nikotin, logam berat, dan bahan kimia yang dapat memengaruhi kesehatan pernapasan dan memicu ketergantungan. Kondisi ini berpotensi menciptakan “generasi baru perokok” yang justru mulai merokok dari vape dan kemudian berpindah ke rokok konvensional (fenomena gateway effect). Program Studi S1 Kesehatan Masyarakat Universitas Dhyana Pura mengadakan Kuliah Umum di Aula E Universitas Dhyana Pura pada hari Rabu, 10 Desember 2025 pukul 09.00-12.00 Wita terkait Rokok Elektrik pada Anak muda Generasi Z dengan narasumber dr. Putu Ayu Swandewi Astuti, S.Ked., MPH.,Ph.D. dari Universitas Udayana dengan moderator Dr. I Nyoman Purnawan, SKM.,M.P.H.

Salah satu faktor penting yang memengaruhi meningkatnya penggunaan rokok elektrik pada generasi ini adalah persepsi risiko yang rendah. Banyak anak muda menganggap vape tidak berbahaya, tidak mengandung zat beracun, atau tidak menyebabkan kecanduan seperti rokok tradisional. Mispersepsi ini sering terbentuk karena paparan iklan, promosi influencer, dan konten media sosial yang menampilkan vape sebagai bagian dari gaya hidup modern, estetik, dan aman. Selain itu, aroma rasa (flavor) yang beragam seperti buah, dessert, hingga minuman manis, membuat vape lebih menarik dan dapat “menutupi” karakteristik rokok yang dianggap tidak nyaman. Generasi Z dikenal sebagai generasi yang kreatif, ekspresif, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi. Namun, di tengah dinamika sosial tersebut, tidak sedikit anak muda yang mengaitkan kepercayaan diri dengan penggunaan rokok elektrik (vape). Produk ini sering dipromosikan melalui media sosial sebagai bagian dari gaya hidup modern, memberikan kesan “keren”, mandiri, dan berani tampil. Padahal, rasa percaya diri sejati tidak dibangun dari benda yang dihisap, melainkan dari kekuatan diri, karakter positif, serta kemampuan mengenali dan menghargai diri sendiri.

Kepercayaan diri tanpa rokok elektrik menjadi penting karena penggunaan vape justru dapat melemahkan kualitas diri secara psikologis dan sosial. Ketergantungan terhadap vape seringkali membuat anak muda merasa bahwa mereka membutuhkan alat tersebut untuk terlihat diterima, tenang, atau mampu berinteraksi di lingkungan sosial. Ketergantungan semacam ini bukan tanda percaya diri, tetapi tanda bahwa seseorang mengandalkan benda eksternal untuk membangun identitasnya. Generasi Z perlu memahami bahwa percaya diri muncul dari kompetensi, prestasi, kemampuan komunikasi, dan penerimaan diri—bukan dari citra artifisial yang dibangun melalui tren konsumtif. Di lingkungan pergaulan, kepercayaan diri tanpa vape justru menjadikan anak muda lebih dihormati. Mereka menunjukkan bahwa jati diri tidak ditentukan oleh benda yang sedang tren, tetapi oleh sikap dan kepribadian. Nilai-nilai seperti kemandirian, ketegasan dalam menolak ajakan negatif, serta kemampuan berpikir kritis menjadi cerminan karakter berdaya tahan yang sangat dibutuhkan oleh generasi global. Dengan karakter tersebut, Generasi Z mampu memimpin, memengaruhi lingkungan, dan menjadi role model bagi teman sebaya. Program Studi S1 Kesehatan Masyarakat Universitas Dhyana Pura mengajak seluruh mahasiswa generasi muda untuk tidak menyentuh dan mencoba rokok elektrik berbahaya bagi kesehatan tubuh. Menjadi percaya diri tanpa rokok elektrik bukan hanya tentang berhenti menggunakan vape, tetapi tentang membangun fondasi diri yang kuat: mengenali kelebihan, menerima kekurangan, mengembangkan keterampilan, menjaga kesehatan, dan memupuk nilai positif. Inilah bentuk kepercayaan diri yang sejati yang tidak mudah goyah oleh tren, tekanan sosial, atau pengaruh eksternal apa pun. Generasi Z dengan kepercayaan diri yang sehat akan menjadi generasi yang lebih produktif, kuat, dan siap menghadapi tantangan masa depan tanpa harus bergantung pada produk adiktif.

KULIAH UMUM “BE SMART, DON’T START: MENGUBAH POLA PIKIR TENTANG ROKOK ELEKTRIK PADA ANAK MUDA GENERASI Z”