
Badung, 11 Maret 2026-Pelaksanaan kelas pembelajaran karakter untuk semester ganjil 2025-2026 sukses diadakan dengan agenda kegiatan Seminar Kebencanaan dan Waspada terhadap bencana khususnya bencana hujan dan gempa.
Kegiatan diawali dengan Safety Briefing kampus siaga bencana menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya. Pembacaan 7 Prinsip Dasar Gerakan Internasional Palang Merah Dan Bulan Sabit Merah. Selanjutnya sambutan disampaikan oleh Wakil Rektor Bidang Akademik, Riset dan Inovasi Universitas Dhyana Pura, Dr. Ni Made Diana, Erfiani, S.S., M.Hum. mewakili Rektor Universitas Dhyana Pura Prof. Dr. I Gusti Bagus Rai Utama, S.E., M.MA., M.A. Dalam sambutannya disampaikan beberapa hal yakni; “ bahwa kita tidak akan pernah tahu kapan bencana itu akan datang, dan karenanya satu-satunya cara adalah bertindak waspada dan siap siaga untuk mengantisipasi bahaya bencana, yang memang tidak bisa diprediksi. Bagi dunia kampus bahwa hal keselamatan, dan kewaspadaan terhadap bencana merupakan hal yang sangat penting, karena institusi sangat mendukung kegiatan yang dilakukan, demi keamanan dann kenyamanan saat belajar di kampus. Dr. Ni Made Diana, Erfiani, S.S., M.Hum juga mengucapkan terimakasih atas kehadiran para narasumber, jajaran Rektorat, Para Dekan, Kaprodi dan seluruh dosen yang hadir untuk belajar tentang kewaspadaan menghadapi cuaca ekstrim, ungkapnya. Lebih lanjut dijelaskan bahwa bencana tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah saja, tetapi semua lapisan masyarakat termasuk insan kampus yg tercermin juga bisa ikut terlibat yang tercermin dalam nilai nilai 7 Karakter yang terdiri atas integritas, percaya diri, kewirausahaan, merawat keragaman, profesionalitas, kepemimpinan melayani, dan wawasan global.
Sambutan juga disampaikan dari Wakil Ketua Bidang Penanggulangan Bencana, Relawan dan Diklat Kabupaten Badung, I Gusti Nyoman Adnyana, Amd. LLAJ, yang mendapat kesan bahwa kampus Dhyana Pura telah membudayakan siaga bencana yang disimulasikan setiap bulan. Kegiatan ini sangat positif dan bermanfaat bagi kehidupan kampus, karena bisa memberikan edukasi kepada warga kampus khususnya mengenai kewaspadaan bencana, ungkapnya. Hadir sebagai pembicara adalah Chassario Maraden, S. KOM (Ketua Tim Pencegahan Penanggulangan Bencana BPBD Popinsi Bali). I Ketut Sassu Budi Satwam, S.Kom.(PMI-Badung), membawakan materi Pelatihan Pertolongan Pertama ( PMI). Sedangkan bertindak sebagai moderator adalah Assoc. Prof. Dr. Christimulia Purnama Trimurti SE, SH, MM.
Siaga terhadap bencana seperti hujan lebat dan gempa bumi tidak hanya berkaitan dengan kesiapsiagaan fisik dan teknis, tetapi juga berkaitan dengan pembentukan karakter sosial masyarakat, salah satunya adalah karakter keberagaman. Karakter keberagaman mencerminkan sikap menghargai perbedaan latar belakang budaya, agama, suku, maupun kondisi sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam situasi kebencanaan, nilai keberagaman menjadi sangat penting karena masyarakat yang terdampak biasanya berasal dari berbagai latar belakang yang berbeda. Kesiapsiagaan terhadap hujan ekstrem yang dapat menyebabkan banjir maupun tanah longsor menuntut adanya kerja sama antarwarga. Ketika masyarakat memiliki kesadaran akan keberagaman, mereka cenderung lebih terbuka untuk bekerja sama tanpa membedakan latar belakang individu. Sikap saling menghargai dan menghormati perbedaan ini mendorong terbentuknya solidaritas sosial dalam menghadapi potensi bencana. Nilai keberagaman juga terlihat dalam proses evakuasi dan penanganan korban. Ketika terjadi gempa bumi, seluruh masyarakat harus saling membantu tanpa memandang perbedaan identitas. Prinsip kemanusiaan menjadi landasan utama dalam memberikan pertolongan kepada siapa pun yang membutuhkan. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran terhadap keberagaman dapat memperkuat rasa empati dan kepedulian sosial di tengah kondisi darurat. Siaga terhadap hujan dan gempa tidak hanya berkaitan dengan aspek teknis mitigasi bencana, tetapi juga memiliki dimensi sosial dan karakter. Kesiapsiagaan bencana dapat menjadi sarana untuk memperkuat nilai keberagaman melalui kerja sama, toleransi, empati, dan gotong royong dalam masyarakat. Ketika nilai-nilai tersebut berkembang dengan baik, masyarakat akan memiliki ketahanan sosial yang lebih kuat dalam menghadapi berbagai risiko bencana di masa depan.
Pada session tanya jawab, 3 orang mahasiswa bertanya seputar kewaspadaan terhadap bencana, dan mereka merasakan puas mendapat edukasi kebencanaan, sehingga siap untuk mempraktekan jika terjadi bencana. Tepat pukul 12.00 Wita acara berakhir.