Badung, Undhira Bali-Teladan dan Unggulan.

Rabu, 6 Mei 2026, bertempat di gedung E lantai 3 Universitas Dhyana Pura diselenggarakan kegiatan kuliah umum yang bekerjasama dengan Densus 88 Provinsi Bali. Acara Kuliah Umum ini dibuka resmi oleh Rektor Universitas Dhyana Pura Prof. Dr.  I Gusti Bagus Rai Utama, S.E., M.M.A., M.A. yang juga dihadiri oleh wakil rektor bidang kemahasiswaan, pemasaran, trucer study dan alumni Dr. I Wayan Ruspendi Junaedi, S.E., M.M. serta kepala bagian kemahasiswaan trucer study dan alumni I Gde Dhika Widarnandana, S. Psi., M. Psi., Psikolog. Bertindak sebagai moderator adalah Dr. Christimulia Purnama Trimurti, S.E., S.H., .M.M. yang juga kepala bagian karakter Universitas Dhyana Pura. Dalam sambutannya, Bapak Rektor menitipkan mahasiswa dan generasi muda kepada Densus 88 agar memperhatikan persoalan radikalisasi ini, terutama yang mengarah pada pelanggaran hukum. Karena menurut Guru Besar Bidang Bisnis Pariwisata ini menjelaskan; bahwa tidak ada negara yang lepas dari radikalisasi, harapannya juga bahwa kedepan generasi muda Indonesia masih tetap berada di mind set Pancasila dan ada di wilayah NKRI, ungkapnya dengan penuh semangat.

Pembicara atau narasumber dari Densus 88 adalah IPDA HADI NATA KUSUMA, S.H., M.M. yang merupakan penjabat Kanit Unit Pencegahan Satgaswil Bali. Dalam paparannya narasumber antara lain menjelaskan bahwa pendekatan pencegahan terorisme saat ini dengan metode soft aproach.  Seminar ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran mahasiswa mengenai pentingnya integritas, nasionalisme, dan sikap kritis dalam menghadapi berbagai bentuk ancaman ideologi radikal yang dapat berkembang di lingkungan kampus. Dalam era digital saat ini, penyebaran paham ekstremisme tidak hanya terjadi melalui interaksi langsung, tetapi juga melalui media sosial dan ruang digital yang mudah diakses oleh generasi muda. Lebih lanjut Bapak Hadi menjelaskan bahwa trend dan modus baru aksi terorisme saat ini adalah merekrut anak muda dan kaum perempuan. Ia juga menjelaskan bahwa ada beberapa kelompok yang masih harus diwaspadai sampai saat ini, antara lain kelompok JI, JAT, JAD, MIT, NII, PKI dan yang lainnya. Integritas merupakan fondasi utama dalam membangun ketahanan individu terhadap pengaruh radikalisme dan terorisme. Mahasiswa yang memiliki integritas tinggi cenderung mampu berpikir rasional, menjunjung nilai kejujuran, menghormati keberagaman, serta mengedepankan dialog damai dalam menyelesaikan perbedaan. Oleh karena itu, penguatan karakter integritas dinilai menjadi strategi preventif yang efektif dalam menanggulangi potensi penyebaran paham terorisme di lingkungan universitas. Selain pemaparan materi, seminar juga diisi dengan sesi diskusi interaktif yang membahas peran mahasiswa sebagai agen perdamaian dan pelopor lingkungan kampus yang aman, inklusif, serta bebas dari intoleransi. Para peserta diberikan pemahaman mengenai pentingnya membangun budaya saling menghormati, meningkatkan literasi digital, serta memperkuat semangat persatuan di tengah keberagaman. Ungkap narasumber lebih lanjut; di era digital saat ini juga kita harus bersikap waspada, karena ada cara baru dalam hal perekrutan radikalisme melalui sarana baru yakni game online. Di tahun 2025 ada 110 orang yang terpapar di Indonesia, dan diantaranya berasal dari Bali 2 orang, 5 orang dewasa, ujar Bapak Hadi. Dalam konteks Densus 88 ini, anak-anak yang terpapar tersebut bukanlah pelaku, tetapi korban yang harus segera ditangani dengan berbagai langkah dan strategi. Orang tua dalam konteks anak-anak ini menjadi kunci dan peran utama dalam pencegahan terorisme, karenanya agar orang tua memperhatikan prilaku dan pola pergaulannya.

Tema seminar “Membangun Benteng Integritas Mahasiswa sebagai Strategi Preventif Penanggulangan Terorisme di Lingkungan Universitas” memiliki keterkaitan yang kuat dengan Karakter 1 Universitas Dhyana Pura, yaitu Integritas, karena integritas merupakan dasar pembentukan kepribadian mahasiswa yang beretika, bertanggung jawab, dan memiliki komitmen terhadap nilai-nilai kebenaran. Dalam kehidupan kampus, integritas tidak hanya diwujudkan melalui kejujuran akademik, tetapi juga melalui sikap menghargai keberagaman, menjaga persatuan, serta menolak segala bentuk tindakan yang bertentangan dengan nilai kemanusiaan. Karakter integritas di Universitas Dhyana Pura menekankan pentingnya keselarasan antara pikiran, perkataan, dan tindakan. Nilai ini sejalan dengan tujuan seminar yang ingin membangun kesadaran mahasiswa agar menjadi pribadi yang bertanggung jawab, memiliki moralitas yang kuat, serta mampu menjadi agen perdamaian di tengah tantangan sosial yang semakin kompleks. Melalui seminar ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya memahami bahaya terorisme dari sisi keamanan, tetapi juga mampu menanamkan nilai integritas dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam aktivitas akademik, organisasi, maupun interaksi sosial. Dengan demikian, penguatan karakter integritas menjadi strategi preventif yang efektif dalam menciptakan lingkungan universitas yang aman, toleran, dan harmonis sesuai dengan visi pembentukan karakter di Universitas Dhyana Pura. Seminar ini menjadi wadah edukatif untuk memperkuat kesadaran mahasiswa bahwa ancaman radikalisme dan terorisme dapat dicegah melalui pembentukan karakter yang kuat. Mahasiswa yang memiliki integritas akan lebih mampu menyaring informasi, berpikir kritis terhadap isu-isu provokatif, serta tidak mudah dipengaruhi oleh ideologi ekstrem yang berpotensi memecah persatuan. Nilai integritas juga mendorong mahasiswa untuk menjunjung sikap toleransi, empati, dan rasa hormat terhadap perbedaan di lingkungan universitas. Sebagai institusi pendidikan yang berorientasi pada pengembangan karakter, Universitas Dhyana Pura menempatkan integritas sebagai nilai utama dalam mencetak generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki ketahanan moral dan sosial. Oleh karena itu, seminar ini menjadi implementasi nyata dari penguatan karakter integritas melalui pendekatan preventif dalam penanggulangan terorisme. Di acara session tanya jawab ada 4 orang yang bertanya, 1 orang dosen dari Bapak Ketut Sirna, S.H., M.M., 3 orang mahasiswa Indah dari Prodi Gizi, Unika dari PG. Paud dan Yustin dari Prodi Sasing. Bagi para penanya disediakan souvenir khusus oleh Densus 88. Acara berakhir tepat pada pukul 12.00 yang ditandai dengan penyerahan sertifikat kepada narasumber dan moderator. Waspadai, Cegah Sejak Dini Aksi Terorisme.

Membangun Benteng Integritas Mahasiswa Sebagai Strategi Preventif Penanggulan Terorisme di Lingkungan Universitas